PURWOKERTO– Aksi unjuk rasa ratusan warga korban kasus dugaan penipuan dan utang fiktif di Bank Mandiri Taspen Cabang Purwokerto belum menemui titik terang hingga siang ini, Jumat (26/6/2026). Sebagian besar peserta aksi sempat meninggalkan lokasi secara bergantian untuk melaksanakan ibadah Salat Jumat, namun berjanji akan segera kembali melanjutkan tuntutan mereka.
Sebagai bentuk keseriusan dan kesiapan bertahan, para pengunjuk rasa telah memasang tenda tepat di halaman depan kantor bank tersebut. Tenda ini disiapkan agar mereka dapat menunggu jawaban resmi dan kepastian penyelesaian masalah tanpa harus pulang terlebih dahulu, meskipun memakan waktu hingga sore bahkan malam hari.
Kuasa hukum korban, Djoko Susanto SH, menegaskan bahwa pemasangan tenda ini menandakan sikap tidak akan menyerah sebelum tuntutan utama dipenuhi. “Kami pasang tenda bukan untuk membuat keributan, tapi bukti kesungguhan. Kami siap menunggu berjam-jam, bergantian menjaga lokasi, sampai ada kepastian jelas dari pihak manajemen Mandiri Taspen,” ujarnya.
Sebelumnya, massa telah menyampaikan tuntutan tegas: pembatalan seluruh kewajiban kredit yang dinilai fiktif, pertanggungjawaban penuh atas kerugian, serta proses hukum yang adil terhadap oknum yang terlibat. Hingga menjelang waktu Salat Jumat, pihak bank belum memberikan tanggapan tertulis yang memuaskan.
Meskipun sempat istirahat untuk ibadah, para korban tetap berkomitmen untuk kembali berkumpul dan melanjutkan aksi damai. Mereka menegaskan akan terus bertahan sampai permintaan mereka didengar dan dipenuhi, mengingat beban cicilan yang harus ditanggung selama puluhan tahun sangat memberatkan kehidupan mereka sebagai pensiunan.
Pihak kepolisian dan TNI tetap mengawasi jalannya aksi untuk memastikan situasi tetap kondusif dan aman bagi kedua belah pihak.
Pernyataan Tegas Kuasa Hukum dan Korban: Siap Berjuang Berhari-hari Demi Keadilan
Dalam orasi di depan kantor Bank Mandiri Taspen Cabang Purwokerto, Djoko Susanto SH menyampaikan pernyataan tegas yang mewakili seluruh nasabah yang merasa dirugikan. Ia mempertanyakan dasar kepercayaan yang diberikan kepada mantan pegawai berinisial N alias D selama bertugas:
“Dia masuk sebagai karyawan Mandiri Taspen, atas dasar apa sampai bisa menemui dan berurusan langsung dengan nasabah? Sekarang oknum itu justru tidak berani muncul dan cenderung takut serta menghindar dari para korban. Kami tidak akan menyerah, bahkan hari ini saja kami sudah pasang tenda untuk bertahan di sini.”
Ia juga menyampaikan harapan dan keyakinan secara mendalam:
“Untuk acara salat Jumat, Allah memahami hamba-Nya yang sedang terzalimi. Allah memahami kami para purnawirawan TNI Angkatan Darat, purnawirawan Polri, pensiunan guru, tenaga kesehatan rumah sakit, dan seluruh profesi yang ada di sini.”
Sebagai pihak yang mendampingi, Djoko berharap manajemen Mandiri Taspen segera menyikapi masalah ini dengan sungguh-sungguh:
“Kami berharap hati Mandiri Taspen terketuk untuk segera menyelesaikan masalah ini dengan baik, minimal mau bertanggung jawab. Baik oknum laki-laki maupun perempuan yang terlibat, harus kami proses secara hukum. Kami warga negara yang taat hukum, tapi setiap hari kami dibebani kebingungan: harus membayar angsuran hutang fiktif sekaligus memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.”
Korban dan tim hukum menegaskan tidak akan beranjak sebelum ada kepastian:
“Oleh karenanya, kami akan menunggu sampai malam. Jika perlu, pintu kantor ini kami gembok dan kami akan sampaikan keluhan ini kepada Presiden, Ketua DPR, serta pimpinan partai politik. Tolong dengarkan: masyarakat Banyumas sedang sakit, para purnawirawan sedang dizalimi oleh lembaga keuangan yang notabene milik negara.”Unjuk Rasa Kasus Mandiri Taspen Belum Selesai: Massa Pasang Tenda, Lanjutkan Perjuangan Hingga Dapat Jawaban Pasti
Purwokerto – Aksi unjuk rasa ratusan warga korban kasus dugaan penipuan dan utang fiktif di Bank Mandiri Taspen Cabang Purwokerto belum menemui titik terang hingga siang ini, Jumat (26/6/2026). Sebagian besar peserta aksi sempat meninggalkan lokasi secara bergantian untuk melaksanakan ibadah Salat Jumat, namun berjanji akan segera kembali melanjutkan tuntutan mereka.
Sebagai bentuk keseriusan dan kesiapan bertahan, para pengunjuk rasa telah memasang tenda tepat di halaman depan kantor bank tersebut. Tenda ini disiapkan agar mereka dapat menunggu jawaban resmi dan kepastian penyelesaian masalah tanpa harus pulang terlebih dahulu, meskipun memakan waktu hingga sore bahkan malam hari.
Kuasa hukum korban, Djoko Susanto SH, menegaskan bahwa pemasangan tenda ini menandakan sikap tidak akan menyerah sebelum tuntutan utama dipenuhi. “Kami pasang tenda bukan untuk membuat keributan, tapi bukti kesungguhan. Kami siap menunggu berjam-jam, bergantian menjaga lokasi, sampai ada kepastian jelas dari pihak manajemen Mandiri Taspen,” ujarnya.
Sebelumnya, massa telah menyampaikan tuntutan tegas: pembatalan seluruh kewajiban kredit yang dinilai fiktif, pertanggungjawaban penuh atas kerugian, serta proses hukum yang adil terhadap oknum yang terlibat. Hingga menjelang waktu Salat Jumat, pihak bank belum memberikan tanggapan tertulis yang memuaskan.
Meskipun sempat istirahat untuk ibadah, para korban tetap berkomitmen untuk kembali berkumpul dan melanjutkan aksi damai. Mereka menegaskan akan terus bertahan sampai permintaan mereka didengar dan dipenuhi, mengingat beban cicilan yang harus ditanggung selama puluhan tahun sangat memberatkan kehidupan mereka sebagai pensiunan.
Pihak kepolisian dan TNI tetap mengawasi jalannya aksi untuk memastikan situasi tetap kondusif dan aman bagi kedua belah pihak.
Pernyataan Tegas Kuasa Hukum dan Korban: Siap Berjuang Berhari-hari Demi Keadilan
Dalam orasi di depan kantor Bank Mandiri Taspen Cabang Purwokerto, Djoko Susanto SH menyampaikan pernyataan tegas yang mewakili seluruh nasabah yang merasa dirugikan. Ia mempertanyakan dasar kepercayaan yang diberikan kepada mantan pegawai berinisial N alias D selama bertugas:
“Dia masuk sebagai karyawan Mandiri Taspen, atas dasar apa sampai bisa menemui dan berurusan langsung dengan nasabah? Sekarang oknum itu justru tidak berani muncul dan cenderung takut serta menghindar dari para korban. Kami tidak akan menyerah, bahkan hari ini saja kami sudah pasang tenda untuk bertahan di sini.”
Ia juga menyampaikan harapan dan keyakinan secara mendalam:
“Untuk acara salat Jumat, Allah memahami hamba-Nya yang sedang terzalimi. Allah memahami kami para purnawirawan TNI Angkatan Darat, purnawirawan Polri, pensiunan guru, tenaga kesehatan rumah sakit, dan seluruh profesi yang ada di sini.”
Sebagai pihak yang mendampingi, Djoko berharap manajemen Mandiri Taspen segera menyikapi masalah ini dengan sungguh-sungguh:
“Kami berharap hati Mandiri Taspen terketuk untuk segera menyelesaikan masalah ini dengan baik, minimal mau bertanggung jawab. Baik oknum laki-laki maupun perempuan yang terlibat, harus kami proses secara hukum. Kami warga negara yang taat hukum, tapi setiap hari kami dibebani kebingungan: harus membayar angsuran hutang fiktif sekaligus memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.”
Korban dan tim hukum menegaskan tidak akan beranjak sebelum ada kepastian:
“Oleh karenanya, kami akan menunggu sampai malam. Jika perlu, pintu kantor ini kami gembok dan kami akan sampaikan keluhan ini kepada Presiden, Ketua DPR, serta pimpinan partai politik. Tolong dengarkan: masyarakat Banyumas sedang sakit, para purnawirawan sedang dizalimi oleh lembaga keuangan yang notabene milik negara.”

